Draft RPP Berkarakter SMP Mapel IPS pola eksplorasi,elaborasi,konfirmasi

Contoh RPP:

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Nama Sekolah                  :     ……………………………..

Mata Pelajaran                 :     Ilmu Pengetahuan Sosial

Kelas / Semester              :     VII / 1

Standar Kompetensi         :     1.       Memahami lingkungan kehidupan manusia

Kompetensi Dasar            :     1.1.    Mendiskripsikan keragaman bentuk muka    bumi,  proses pembentukan dan dampaknya   terhadap kehidupan

Alokasi Waktu                 :     12 jam pelajaran ( 6 x pertemuan )

  1. A. TUJUAN PEMBELAJARAN*    :

Setelah selesai melaksanakan kegiatan pembelajaran, siswa dapat :

Pertemuan 1 :

Ü      Menjelaskan proses alam endogen yang menyebabkan terjadinya bentuk muka bumi dengan Tekun ( diligence )

Pertemuan 2 :

Ü      Menjelaskan gejala diastropisme dan vulkanisme dengan Tekun ( diligence )

Ü      Membedakan tipe-tipe gunung menurut bentuknya dengan Tekun ( diligence )

Pertemuan 3 :

Ü      Menyebutkan faktor-faktor penyebab terjadinya gempa bumi dan akibat yang ditimbulkan Secara telitian ( carefulness)

Ü      Menyebutkan jenis batuan berdasarkan proses pembentukannya Secara telitian ( carefulness)

Pertemuan 4 :

Ü      Menjelaskan terjadinya proses pelapukan  dengan Tekun ( diligence )

Pertemuan 5 :

Ü      Menyebutkan faktor penyebab erosi dan dampak erosi Secara telitian ( carefulness)

Pertemuan 6 :

Ü      Menjelaskan dampak positif dan negatif dari tenaga endogen dan eksogen dengan Tekun ( diligence )

v      Karakter siswa yang diharapkan : Disiplin ( Discipline )

Rasa hormat dan perhatian ( respect )

Tekun ( diligence )

Tanggung jawab ( responsibility )

Ketelitian ( carefulness)

  1. B. MATERI  PEMBELAJARAN :

1.   PROSES ALAM ENDOGEN TERHADAP PEMBENTUKAN MUKA BUMI.

Keberagaman bentuk muka bumi disebabkan oleh kekuatan besar yang bekerja pada bumi. Kekuatan itu disebut tenaga geologi. Tenaga geologi pada dasarnya dibedakan atas dua macam, yaitu tenaga endogen dan tenaga eksogen. Tenaga endogen ialah tenaga yang berasal dari dalam bumi. Tenaga endogen mempunyai sifat membangun. Tenaga eksogen ialah tenaga yang berasal dari luar permukaan bumi. Tenaga ini mempunyai sifat merusak permukaan bumi.

a. Proses Alam Endogen

Tahukah kamu bahwa bumi yang kita pijak ternyata berjalan-jalan dengan kecepatan beberapa cm per tahun? Pergerakan tersebut tidak terasa oleh kita. Namun, pergerakan tersebut menyebabkan perubahan relief muka bumi. Pernahkah kamu melihat permukaan jalan yang amblas? Jalan amblas ialah contoh adanya pergerakan dalam bumi. Pergerakan tersebut disebabkan oleh tenaga yang berasal dari dalam bumi yang disebut tenaga endogen. Dengan demikian, di dalam bumi terdapat sumber energi. Dari manakah energi itu berasal? Ternyata di dalam bumi terdapat sumber panas yang berasal dari inti bumi.

Perhatikanlah gambar lapisan bumi dibawah ini.

Keterangan:

Lapisan Inti: cairan kental bersuhu di atas 4.500° C dan bertekanan tinggi, mengandung mineral cairan Besi dan Nikel (disebut juga lapisan Nife).

Lapisan Astenosfer: merupakan lapisan kedua yang melapisi lapisan inti dengan suhu antara 2.000-4.000° C dan tekanan terus menurun, mengandung mineral Silicium dan Magnesium (disebut juga lapisan Sima).

Lapisan Litosfer: merupakan lapisan lebih kental dengan suhu < 2.000° C dan tekanan terus turun. Lapisan ini disebut juga lapisan mantel bumi.

Kerak Bumi: padat dan keras, menempel pada mantel bumi, mengandung mineral Silicium dan Aluminium (disebut juga lapisan Sial).

Kita telah mengetahui bahwa kulit bumi itu padat, dingin, dan terapung di atas mantel bumi. Kerak bumi yang membentuk dasar samudera disebut lempeng samudera. Kerak bumi yang membentuk dasar benua disebut lempeng benua. Lempeng samudera dan lempeng benua terletak di atas lapisan mantel. Kita juga telah belajar bahwa lapisan mantel mendapat pemanasan terus-menerus dari lapisan Sima. Pemanasan ini menyebabkan terjadinya gerakan cairan dengan arah vertikal (konveksi) pada lapisan mantel. Akibatnya, arus konveksi ini menumbuk kulit bumi yang terapung di atasnya.

Karena tumbukan lempeng samudera dan lempeng benua, salah satu lempeng akan menujam ke bawah. Padahal, makin ke dalam suhu makin panas. Akibatnya, bagian kulit bumi yang padat dan dingin yang menujam ke bawah akan meleleh dan berubah menjadi magma serta mengeluarkan energi. Karena tumbukan terjadi terus-menerus, akan terkumpul tumpukan magma dan tumpukan energi. Penumpukan ini akan menyebabkan terjadinya hal-hal berikut.

(1) Tekanan ke atas dari magma, gerak lempeng, dan energi yang terkumpul akan mampu menekan lapisan kulit bumi sehingga terjadi perubahan letak atau pergeseran kulit bumi. Akibatnya, kulit bumi bisa melengkung (disebut lipatan) atau patah (disebut patahan). Gejala ini disebut tektonisme.

(2) Magma akan menerobos lempeng benua di atasnya melalui celah atau retakan atau patahan dan terbentuklah gunung api. Gejala ini disebut vulkanisme.

(3) Bila tumpukan energi di daerah penujaman demikian besar, energi tersebut akan mampu menggoyang atau menggetarkan lempeng benua dan lempeng samudera di sekitarnya. Goyangan atau getaran ini disebut gempa bumi. Gejala ini disebut seisme.

b. Proses Alam Eksogen

Tenaga eksogen ialah tenaga yang berasal dari luar bumi yang berpengaruh terhadap permukaan bumi. Tenaga eksogen dapat menyebabkan relief permukaan bumi berubah. Proses perubahan muka bumi dapat berlangsung secara mekanis, biologis, maupun secara kimiawi. Tenaga eksogen ini menyebabkan terjadinya pelapukan, erosi, gerak massa batuan, dan sedimentasi yang bersifat merusak bentuk permukaan bumi.

2.   GEJALA DISATROPISME DANN VULKANISME

Vulkanisme

Semua gejala di dalam bumi sebagai akibat adanya aktivitas magma disebut vulkanisme. Gerakan magma itu terjadi karena magma mengandung gas yang merupakan sumber tenaga magma untuk menekan batuan yang ada di sekitarnya.

Lalu apa yang disebut magma? Magma adalah batuan cair pijar bertemperatur tinggi yang terdapat di dalam kulit bumi, terjadi dari berbagai mineral dan gas yang terlarut di dalamnya. Magma terjadi akibat adanya tekanan di dalam bumi yang amat besar, walaupun suhunya cukup tinggi, tetapi batuan tetap padat. Jika terjadi pengurangan tekanan, misalnya adanya retakan, tekanannya pun akan menurun sehingga batuan tadi menjadi cair pijar atau disebut magma.


Magma bisa bergerak ke segala arah, bahkan bisa sampai ke permukaan bumi. Jika gerakan magma tetap di bawah permukaan bumi disebut intrusi magma. Sedangkan magma yang bergerak dan mencapai ke permukaan bumi disebut ekstrusi magma. Ekstrusi magma inilah yang menyebabkan gunung api atau disebut juga vulkan.

Hal ini berarti intrusi magma tidak mencapai ke permukaan bumi. Mungkin hanya sebagian kecil intrusi magma yang bisa mencapai ke permukaan bumi. Namun yang perlu diingat bahwa intrusi magma bisa mengangkat lapisan kulit bumi menjadi cembung hingga membentuk tonjolan berupa pegunungan. Secara rinci, adanya intrusi magma (atau disebut plutonisme) menghasilkan bermacam-macam bentuk (perhatikan gambar penampang gunung api), yaitu:

  1. Batolit adalah batuan beku yang terbentuk di dalam dapur magma, sebagai akibat penurunan suhu yang sangat lambat.
  2. Lakolit adalah magma yang menyusup di antara lapisan batuan yang menyebabkan lapisan batuan di atasnya terangkat sehingga menyerupai lensa cembung, sementara permukaan atasnya tetap rata.
  3. Keping intrusi atau sill adalah lapisan magma yang tipis menyusup di antara lapisan batuan.
  4. Intrusi korok atau gang adalah batuan hasil intrusi magma memotong lapisan-lapisan litosfer dengan bentuk pipih atau lempeng.
  5. Apolisa adalah semacam cabang dari intrusi gang namun lebih kecil.
  6. Diatrema adalah batuan yang mengisi pipa letusan, berbentuk silinder, mulai dari dapur magma sampai ke permukaan bumi.

Tentunya Anda masih ingat bahwa jika aktivitas magma mencapai ke permukaan bumi, maka gerakan ini dinamakan ekstrusi magma. Jadi ekstrusi magma adalah proses keluarnya magma ke permukaan bumi. Ekstrusi magma inilah yang menyebabkan terjadinya gunung api. Ekstrusi

magma tidak hanya terjadi di daratan tetapi juga bisa terjadi di lautan. Oleh karena itu gunung

berapi bisa terjadi di dasar lautan.

Secara umum ekstrusi magma dibagi dalam tiga macam, yaitu:

  1. Ekstrusi linier, terjadi jika magma keluar lewat celah-celah retakan atau patahan memanjang sehingga membentuk deretan gunung berapi. Misalnya Gunung Api Laki di Eslandia, dan deretan gunung api di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
  2. Ekstrusi areal, terjadi apabila letak magma dekat dengan permukaan bumi, sehingga magma keluar meleleh di beberapa tempat pada suatu areal tertentu. Misalnya Yellow Stone National Park di Amerika Serikat yang luasnya mencapai 10.000 km persegi.
  3. Ekstrusi sentral, terjadi magma keluar melalui sebuah lubang (saluran magma) dan membentuk gunung-gunung yang terpisah. Misalnya Gunung Krakatau, Gunung Vesucius, dan lain-lain.

Berdasarkan sifat erupsi dan bahan yang dikeluarkannya, ada 3 macam gunung berapi sentral, yaitu:

  1. Gunung api perisai. Gunung api ini terjadi karena magma yang keluar sangat encer. Magma yang encer ini akan mengalir ke segala arah sehingga membentuk lereng sangat landai. Ini berarti gunung ini tidak menjulang tinggi tetapi melebar. Contohnya: Gunung Maona Loa dan Maona Kea di Kepulauan Hawaii.
  2. Gunung api maar. Gunung api ini terjadi akibat adanya letusan eksplosif. Bahan yang dikeluarkan relatif sedikit, karena sumber magmanya sangat dangkal dan sempit. Gunung api ini biasanya tidak tinggi, dan terdiri dari timbunan bahan padat (efflata). Di bekas kawahnya seperti sebuah cekungan yang kadang-kadang terisi air dan tidak mustahil menjadi sebuah danau. Misalnya Danau Klakah di Lamongan atau Danau Eifel di Prancis.
  3. Gunung api strato. Gunung api ini terjadi akibat erupsi campuran antara eksplosif dan efusif yang bergantian secara terus menerus. Hal ini menyebabkan lerengnya berlapis-lapis dan terdiri dari bermacam-macam batuan. Gunung api inilah yang paling banyak ditemukan di dunia termasuk di Indonesia. Misalnya gunung Merapi, Semeru, Merbabu, Kelud, dan lain-lain.

3.   TIPE-TIPE GUNUNG MENURUT BENTUKNYA

Gunung api dapat didefinisikan sebagai suatu sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan hasil akumulasi material yang dikeluarkan pada saat dia meletus.

Tipe-tipe gunung api berdasarkan bentuknya (morfologi):

  1. Stratovolcano, Tersusun dari batuan hasil letusan dengan tipe letusan berubah-ubah sehingga dapat menghasilkan susunan yang berlapis-lapis dari beberapa jenis batuan, sehingga membentuk suatu kerucut besar (raksasa), terkadang bentuknya tidak beraturan, karena letusan terjadi sudah beberapa ratus kali. Gunung Merapi merupakan jenis ini.
  2. Perisai, Tersusun dari batuan aliran lava yang pada saat diendapkan masih cair, sehingga tidak sempat membentuk suatu kerucut yang tinggi (curam), bentuknya akan berlereng landai, dan susunannya terdiri dari batuan yang bersifat basaltik. Contoh bentuk gunung berapi ini terdapat di kepulauan Hawai.
  3. Cinder Cone, Merupakan gunung berapi yang abu dan pecahan kecil batuan vulkanik menyebar di sekeliling gunung. Sebagian besar gunung jenis ini membentuk mangkuk di puncaknya. Jarang yang tingginya di atas 500 meter dari tanah di sekitarnya.
  4. Kaldera, Gunung berapi jenis ini terbentuk dari ledakan yang sangat kuat yang melempar ujung atas gunung sehingga membentuk cekungan. Gunung Bromo merupakan jenis ini.
  1. Tipe A : Gunung berapi yang pernah mengalami erupsi magmatik sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600.
  2. Tipe B : Gunung berapi yang sesudah tahun 1600 belum lagi mengadakan erupsi magmatik, namun masih memperlihatkan gejala kegiatan seperti kegiatan solfatara.
  3. Tipe C : Gunung berapi yang erupsinya tidak diketahui dalam sejarah manusia, namun masih terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapangan solfatara/fumarola pada tingkah lemah.

Perbedaan Lava dan Lahar:

Lava : cairan magma pijar yang mengalir keluar dari dalam bumi melalui kawah gunung berapi atau melalui celah (patahan) yang kemudian membeku menjadi batuan yang bentuknya bermacam-macam.

Lahar : aliran material vulkanik yang biasanya berupa campuran batu, pasir dan kerikil akibat adanya aliran air yang terjadi di lereng gunung (gunung berapi). Di Indonesia khususnya, aktivitas aliran lahar ini akan meningkat seiring dengan meningkatnya intensitas curah hujan.

Tipe-tipe erupsi:

Berdasarkan sumber erupi

Berdasarkan tinggi rendahnya derajat fragmentasi dan luasnya, juga kuat lemahnya letusan serta tinggi tiang asap.
Magma merupakan batu-batuan cair yang terletak di dalam kamar magma di bawah permukaan bumi. Magma di bumi merupakan larutan silika bersuhu tinggi yang kompleks dan merupakan asal semua batuan beku. Magma berada dalam tekanan tinggi dan kadang kala memancut keluar melalui pembukaan gunung berapi dalam bentuk aliran lava atau letusan gunung berapi.

Hasil letupan gunung berapi ini mengandung larutan gas yang tidak pernah sampai ke permukaan bumi. Magma terkumpul dalam kamar magma yang terasing di bawah kerak bumi dan mengandung komposisi yang berlainan menurut tempat magma itu didapati.

Abu vulkanik, sering disebut juga pasir vulkanik atau jatuhan piroklastik adalah bahan material vulkanik jatuhan yang disemburkan ke udara saat terjadi suatu letusan, terdiri dari batuan berukuran besar sampai berukuran halus. Batuan yang berukuran besar (bongkah – kerikil) biasanya jatuh disekitar kawah sampai radius 5 – 7 km dari kawah, dan yang berukuran halus dapat jatuh pada jarak mencapai ratusan km bahkan ribuan km dari kawah karena dapat terpengaruh oleh adanya hembusan angin. Sebagai contoh letusan G. Krakatau tahun 1883 dapat mengitari bumi berhari-hari, juga letusan G. Galunggung tahun 1982 dapat mencapai Australia. Aliran piroklastik ini tidak dipengaruhi oleh topografi.

4.   FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA GEMPA BUMI

1.PENGERTIAN GEMPA BUMI
•Gempa bumi adalah getaran yang dirasakan dipermukaan bumi yang disebabkan oleh gelombang-gelombang seismik dari dari sumber gempa di dalam lapisan kulit bumi.
•Pusat atau sumber gempa bumi yang letaknya didalam bumi disebut hiposentrum. Daerah dipermukaan bumi ataupun didasar laut yang merupakan tempat pusat getaran bumi merambat disebut episentrum. Gempa bumi dapat diklasifikasikan menurut kedalaman hiposentrum,kekuatan gelombang atau getaran gempanya dan faktor penyebabnya.

A.KLASIFIKASI GEMPA BUMI MENURUT KEDALAMAN HIPOSENTRUM
1) GEMPA BUMI DALAM
•gempa bumi adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada lebih dari 300 km di bawah permukaan bumi. Gempa bumi dalam pada umumnya tidak terlalu berbahaya. Tempat yang pernah mengalami adalah dibawah laut jawa,laut sulawesi,dan laut flores

2)GEMPA BUMI MENENGAH
•Gempa bumi menengah adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada antara 60 km sampai 300 km di bawah permukaan bumi.gempa bumi menengah pada umumnya menimbulkan kerusakan ringan dan getarannya lebih terasa.
•Tempat yang pernah terkena antara lain :
•Sepanjang pulau sumatera bagian barat,pulau jawa bagian selatan,sepanjang teluk tomini,laut maluku,dan kep. Nusa Tenggara.

3)GEMPA BUMI DANGKAL
•Gempa bumi dangkal adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada kurang dari 60 km dari permukaan bumi. Gwempa bumi ini biasanya menimbulkan kerusakan yang besar. Tempat yang pernah terkena antara lain :
•Pulau bali,pulau flores,yogyakarta,dan jawa tengah.

B.KLASIFIKASI GEMPA BUMI MENURUT GELOMBANG/GETARAN GEMPA
1) GEMPA AKIBAT GELOMBANG PRIMER
Gelombang primer(gelombang lungitudinal)adalah gelombang/getaran yang merambat di tubuh bumi dengan kecepatan antara 7-14 km/detik.getaran ini berasal dari hiposentrum

2)GEMPA AKIBAT GELOMBANG SEKUNDER
Gelombang sekunder (gelombang transversal) adalah gelombang atau getaran yang merambat,seperti gelombang primer dengan kecepatan yang sudah berkurang,yakni 4-7 km/detik. Gelombang sekunder tidak dapat merambat melalui lapisan cair.

3)GEMPA AKIBAT GELOMBANG PANJANG
•Gelombang panjang adalah gelombang yang merambat melalui permukaan bumi dengan kecepatan 3-4 km/detik.
•Gelombang ini berasal dari episentrum.dan gelombang inilah yang banyak menimbulkan kerusakan di permukaan bumi.

C.KLASIFIKASI GEMPA BUMI MENURUT FAKTOR PENYEBABNYA
•1) GEMPA BUMI TEKTONIK
•Gempa bumi tektonik adalah gempa bumi yang di sebabkan oleh dislokasi atau perpindahan akibat pergesaran lapisan bumiyang tiba-tiba terjadi pada struktur bumi,yakni adanya tarikan atau tekanan.
•Pergeseran lapisan bumi ada 2 macam:
•-VERTIKAL
•-HORIZONTAL

2) GEMPA BUMI VULKANIK
Gempa bumi vulkanik adalah gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas gunung api atau letusan gunung api.pada saat dapur magma bergejolaik,ada energi yang mendesak lapisan bumi. Energi yang mendesak lapusan bumi ada yang mampu mengang kat lapisdan bumi sampai ke permukaan di sertai getaran. Gunung api yang akan meletus biasanya mengakibatkan gempa bumi.

3) GEMPA BUMI RUNTUHAN
•Gempa bumi runtuhan(terban) adalah gempa bumi yang di sebabka runtuhnya atap gua atau terowongan tambang di bawah tanah.
•Jika batuan pada atap rongga atau pada dinding rongga mengalami pelapukan,maka rongga dapat runtuh karna tidak mampu lagi menahan beban di atas rongga.runtuhnya gua dan terowongan yang besar bisa mengakibatkan getaran yang kuat

Alat untuk mengukur gempa bumi adalah seismograf.seismograf ada 2 jenis:
•-seismogaf vertikal
•-seismograf horizontal
• untukmengukur gempa bumi di butuhkan satu seusmograf vertikal dan dua seismograf horizontal.

2)FAKTOR-FAKTOR TERJADINYA GEMPA BUMI
Faktor penyebab terjadinya gempa bumi adalah adanya retakan dan pelepasan sistem disuatu tempat yang kemudian bergerak dan berubah demikian cepat sebagai akibat desakan tenaga dari dalam bumi(endogen)maupun dari luar bumi(eksogen).

3)AKIBAT YANG DITIMBULKAN OLEH GEMPA BUMI
Gempa bumi memiliki kekuatan yang bervariasi,yakni gempa yang berkekuatan rendah,sedang dan tinggi.
Apabila gempa bumi berkekuatan sedang dan tinggi terjadi didekat daratan maka akan menimbulkan kerusakan secara fisik yang hebat. Contohnya:
~ jalan raya terputus
~ seluruh bangunan terbelah

Gempa bumi juga dapat menimbulkan bencana sekunder. Contohnya :
~terputusnya listrik,telepon,jaringan air minum.
~kebakaran,ledakan dan kekeringan.

Gempa bumi yang kuat apabila terjadio di dasar laut dapat menimbulkan gelombang laut yang besar atau yang biasa disebut TSUNAMI. Tsunami dapat memiliki kecepatan lebih dari 500 km/jam.
Tsunami adalah gelombang besar yang di akibatkan oleh pergeseran bumi di dasar laut. Kata tsunami berasal dari bahasa jepang yang berarti gelombang pelabuhan.

Beberapa hal akibat dari tsunami :
A~ banjir dan gelombang pasang
B~ kerusakan pada sarana dan prasarana
C~ pencemaran air bersih

TANDA-TANDA TERJADINYA TSUNAMI
A~ pasa umumnya terjadi gempa yang sangat kuat.
B~ permukaan laut akan surut tiba-tiba. Hal tersebut merupakan awal tanda gelombang raksasa akan datang dan sekaligus pratanda peringatan datangnya tsunami.
C~ tsunami terdiri atas beberapa rangkaian gelombang. Pada umumnya,gelombang pertama bukan gelombang yang besar dan membahayakan,namun sesaat kemudian akan muncul gelombang yang lebih besar dan berbahaya.
D~ pemasangan alat berteknologi tinggi(tsunami buoy),yaitu sistem peringatan dini gelombang tsunami.

CARA MENYELAMAT KAN DIRI DARI TSUNAMI
A~segera mengungsi dan ketempat yang menjauhi tempat kejadian.
B~jika disertai gempa berlari ketempat yang lebih tinggi (menjauhi pantai).
C~mengutamakan keselamatan jiwa sendiri,tak perlu memikirkan harta.
D~jika terjebak dalam tsunami maka carilah benda-benda terapung sebagai rakit.

UPAYA MENGURANGI DAMPAK TSUNAMI
A~ 100 meter dari wilayah pesisir tidak di jadikan sebagai tempat pemukiman.
B~ menanam tanaman yang mempunyai daya resistensi tinggi dalam menahan gelombang tsunami

4)SKALA KEKUATAN GEMPA BUMI
A~ SKALA KEKUATAN GEMPA BUMI MENURUT C.F. RICHTER.
C . F . Richter adalah seorangahli sismologi berkebangsaan amerika serikat,yang pada tahun 1935,menyusun skala gempa bumi berdasarkan skala magnitudo (ukuran besar/kecilnya kekuatan gempa). Richter menggunakan klasifikasi angka 0 sampai 8.semakin besar angka semakin besar magnitudonya.

B~ SKALA KEKUATAN GEMPA BUMI MENURUT MERCALLI
Mercalli pada tahun 1931 menyusun skala gempa bumi berdasarkan skla intensitas gempa.intensitas gempa sdi suatu tempat adalah kekuatan gempa yang diestimasikan berdasarkan efek geologis dan efeknya terhadap bangunan dan manusia.

C~SKALA KEKUATAN GEMPA MENURUT OMORI
Skala gempa yang ditilis oleh omoro mirip dengan skla gempa yang ditilis olh mercalli.
Di indonesia jika diperhatikan dengan cermat kondisi gunung apinya masih tergolong berumur muda dan berderet yang membentuk jalur gunung api.
Dan merupakan pertemuan antara sirkum mediterania dan sirkum pasifik.

5)MENGHADAPI GEMPA
Tindakan Saat Gempa:
~jika berada dalam gedung/rumah,segeralah keluar dalam keadaan tenang.
~jika dalam keramaian ruangan jangan ikut panik,carilah jalan alternatif
~jika berada di luar rumah menjauhlah dari bangunan dan pohon yang dapat rubuh.
~jika berada didalam gedung bertingkat,jangan gunakan lift saat terjadi gempa.

Tindakan yang di lakukan setelah gempa
~nyalakan radio atau cari informasi dari para pejabat yang berwenang.
~jangan memasuki bangunan yang terlihat sudah tidak stabil.
~untuk daerah pesisir jika air surut tiba-tiba berhati-hati dan segera mengungsi.

6)PROSES TERBENTUKNYA JALUR GUNUNG API DI INDONESIA
Menurut para ahli geoloi,lempeng india-australia yang berada di dasar samudera sebelah selatan indonesia telah bertabrakan dengan lempeng eurasia(daratan benua eropa dan asia) di sepanjang lempeng bagian selatan indonesia.di tempat itu,lempeng india-australia terdesak dan menyusup ke bawah kepulauan indonesia.

Proses tabrakan antar lempeng yang kemudian terjadi penyusupan suatu lempeng benua ke lempeng benua lainnya atau yang sering disebut penunjaman(subduction). Peristiwa serupa juga terjadidi kawasan indopnesia bagian timur.di daerah itu lempeng pasifik mengalami penunjaman kebawah lempeng eurasia.
Proses penunjaman tersebut menimbulkan getaran atau gempa bumi di indonesia yang melepaskan panas yang menyebabkan melelehnya batuan,sehingga menghasilkan magma.

7) JALUR GUNUNG API INDONESIA
Keberadaan jalur pegunungan dunia,menyebabkan indonesia memiliki 3 sistem gunung api. Di antaranya :
A~jalur pegunungan sirkum mediterania
B~ jalur pegunungan sirkum pasifik
C~ jalur pegunungan lingkar australia

Jalur gunung api busur luar/outer arc yang bersifat non vulkanik/tidak aktif
Simeulue,nias,batu,mentawai,enggano,sswo ,rote,timur,leti,sermata,buru,dll

JALUR PEGUNUNGAN SIRKUM PASIFIK
Jalur pegunungan ini berderet melalui sulawesi utara,yakni gunung lakon,soputan,klabat bersambung ke kepulauan sangir,talaud,tidore,ternate,serta lampo batang(sulawesi selatan

JALUR PEGUNUNGAN LINGKAR AUSTRALIA
Jalur pegunungan ini berderet dibagian ekor Pulau Irian sampai kepala burung Irian dan berakhir di Pulau Halmahera dan sekitarnya
Di Indonesia terdapat sekitar 130 Gunung Api yang masih aktif dan sekitar 420 Gunung Api yang sudah tidak aktif / sudah mati.

JALUR GEMPA BUMI DI INDONESIA
Lempeng India -Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia dan lempeng India Australia bertabrakan dengan lempeng Pasifik.
Jalur gempa bumi di indonesia yan posisinya mengikuti sirkum mediterania melalui pulau Sumatera sebelah barat,Pulau Jawa sebelah selatan,Bali,NTB,NTT.
Daerah yang relatif aman dari ancaman gempa bumi jika dibandingkan dengan beberapa pulau lainnya adalahn Pulau Kalimantan . Hal ini disebabkan karena Pulau Kalimantan letaknya jauh dari lokasi pertemuan antarlempeng,sehingga hampir tidak terdapat hiposentrum gempa.

5.   JENIS-JENIS BATUAN MENUURUT PROSES PEMBENTUKANNYA

PEMBENTUKAN BATUAN

Pembentukan berbagai macam mineral di alam akan menghasilkan berbagai jenis batuan tertentu. Proses alamiah tersebut bisa berbeda-beda dan membentuk jenis batuan yang berbeda pula. Pembekuan magma akan membentuk berbagai jenis batuan beku. Batuan sedimen bisa terbentuk karena berbagai proses alamiah, seperti proses penghancuran atau disintegrasi batuan, pelapukan kimia, proses kimiawi dan organis serta proses penguapan/ evaporasi. Letusan gunung api sendiri dapat menghasilkan batuan piroklastik. Batuan metamorf terbentuk dari berbagai jenis batuan yang telah terbentuk lebih dahulu kemudian mengalami peningkatan temperature atau tekanan yang cukup tinggi, namun peningkatan temperature itu sendiri maksimal di bawah temperature magma.

SIKLUS BATUAN

BATUAN BEKU

Magma dapat mendingin dan membeku di bawah atau di atas permukaan bumi. Bila membeku di bawah permukaan bumi, terbentuklah batuan yang dinamakan batuan beku dalam atau disebut juga batuan beku intrusive (sering juga dikatakan sebagai batuan beku plutonik). Sedangkan, bila magma dapat mencapai permukaan bumi kemudian membeku, terbentuklah batuan beku luar atau batuan beku ekstrusif.

BATUAN BEKU DALAM

Magma yang membeku di bawah permukaan bumi, pendinginannya sangat lambat (dapat mencapai jutaan tahun), memungkinkan tumbuhnya kristal-kristal yang besar dan sempurna bentuknya, menjadi tubuh batuan beku intrusive. Tubuh batuan beku dalam mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam, tergantung pada kondisi magma dan batuan di sekitarnya. Magma dapat menyusup pada batuan di sekitarnya atau menerobos melalui rekahan-rekahan pada batuan di sekelilingnya.

Bentuk-bentuk batuan beku yang memotong struktur batuan di sekitarnya disebut diskordan, termasuk di dalamnya adalah batholit, stok, dyke, dan jenjang volkanik.

  • Batholit, merupakan tubuh batuan beku dalam yang paling besar dimensinya. Bentuknya tidak beraturan, memotong lapisan-lapisan batuan yang diterobosnya. Kebanyakan batolit merupakan kumpulan massa dari sejumlah tubuh-tubuh intrusi yang berkomposisi agak berbeda. Perbedaan ini mencerminkan bervariasinya magma pembentuk batholit. Beberapa batholit mencapai lebih dari 1000 km panjangnya dan 250 km lebarnya. Dari penelitian geofisika dan penelitian singkapan di lapangan didapatkan bahwa tebal batholit antara 20-30 km. Batholite tidak terbentuk oleh magma yang menyusup dalam rekahan, karena tidak ada rekahan yang sebesar dimensi batolit. Karena besarnya, batholit dapat mendorong batuan yang di1atasnya. Meskipun batuan yang diterobos dapat tertekan ke atas oleh magma yang bergerak ke atas secara perlahan, tentunya ada proses lain yang bekerja. Magma yang naik melepaskan fragmen-fragmen batuan yang menutupinya. Proses ini dinamakan stopping. Blok-blok hasil stopping lebih padat dibandingkna magma yang naik, sehingga mengendap. Saat mengendap fragmen-fragmen ini bereaksi dan sebagian terlarut dalam magma. Tidak semua magma terlarut dan mengendap di dasar dapur magma. Setiap frgamen batuan yang berada dalam tubuh magma yang sudah membeku dinamakan Xenolith.
  • Stock, seperti batolit, bentuknya tidak beraturan dan dimensinya lebih kecil dibandingkan dengan batholit, tidak lebih dari 10 km. Stock merupakan penyerta suatu tubuh batholit atau bagian atas batholit.
  • Dyke, disebut juga gang, merupakan salah satu badan intrusi yang dibandingkan dengan batholit, berdimensi kecil. Bentuknya tabular, sebagai lembaran yang kedua sisinya sejajar, memotong struktur (perlapisan) batuan yang diterobosnya.
  • Jenjang Volkanik, adalah pipa gunung api di bawah kawah yang mengalirkan magma ke kepundan. Kemudaia setelah batuan yang menutupi di sekitarnya tererosi, maka batuan beku yang bentuknya kurang lebih silindris dan menonjol dari topografi disekitarnya.

Bentuk-bentuk yang sejajar dengan struktur batuan di sekitarnya disebut konkordan diantaranya adalah sill, lakolit dan lopolit.

  • Sill, adalah intrusi batuan beku yang konkordan atau sejajar terhadap perlapisan batuan yang diterobosnya. Berbentuk tabular dan sisi-sisinya sejajar.
  • Lakolit, sejenis dengan sill. Yang membedakan adalah bentuk bagian atasnya, batuan yang diterobosnya melengkung atau cembung ke atas, membentuk kubah landai. Sedangkan, bagian bawahnya mirip dengan Sill. Akibat proses-proses geologi, baik oleh gaya endogen, maupun gaya eksogen, batuan beku dapt tersingka di permukaan.
  • Lopolit, bentuknya mirip dengan lakolit hanya saja bagian atas dan bawahnya cekung ke atas.

Batuan beku dalam selain mempunyai berbagai bentuk tubuh intrusi, juga terdapat jenis batuan berbeda, berdasarkan pada komposisi mineral pembentuknya. Batuan-batuan beku luar secara tekstur digolongkan ke dalam kelompok batuan beku fanerik.

BATUAN BEKU LUAR

Magma yang mencapai permukaan bumi, keluar melalui rekahan atau lubang kepundan gunung api sebagai erupsi, mendingin dengan cepat dan membeku menjadi batuan ekstrusif. Keluarnya magma di permukaan bumi melalui rekahan disebut sebagai fissure eruption. Pada umumnya magma basaltis yang viskositasnya rendah dapat mengalir di sekitar rekahannya, menjadi hamparan lava basalt yang disebut plateau basalt. Erupsi yang keluar melalui lubang kepundan gunung api dinamakan erupsi sentral. Magma dapat mengalir melaui lereng, sebagai aliran lava atau ikut tersembur ke atas bersama gas-gas sebagai piroklastik. Lava terdapat dalam berbagai bentuk dan jenis tergantung apda komposisi magmanya dan tempat terbentuknya.

Apabila magma membeku di bawah permukaan air terbentuklah lava bantal (pillow lava), dinamakan demikian karena pembentukannya di bawah tekanan air.

Dalam klasifikasi batuan beku batuan beku luar terklasifikasi ke dalam kelompok batuan beku afanitik.

KLASIFIKASI BATUAN BEKU

Pengelompokan atau klasifikasi batuan beku secara sederhana didasarkan atas tekstur dan komposisi mineralnya. Keragaman tekstur batuan beku diakibatkan oleh sejarah pendinginan magma, sedangkan komposisi mineral bergantung pada kandungan unsure kimia magma induk dan lingkungan krsitalisasinya.

Tekstur Batuan Beku

Beberapa tekstur batuan beku yang umum adalah:

1. Gelas (Glassy), tidak berbutir atau tidak memiliki Kristal (amorf)

2. Afanitik (fine grained texture), bebrutir sangat halus  hanya dapat dilihat dengan mikroskop

3. Fanerik (coarse grained texture), berbutir cukup besar sehingga komponen mineral pembentuknya dapat dibedakan secara megaskopis.

4. Porfiritik, merupakan tekstur yang khusus di mana terdapat campuran antara butiran-butian kasar di dalam massa dengan butiran-butiran yang lebih halus. Butiran besar yang bentuknya relative sempurna disebut Fenokrist sedangkan butiran halus di sekitar fenokrist disebut massadasar.

Secara ringkas, klasifikasi batuan beku dapat dinyatakan sebagai berikut:

BATUAN METAMORF

Batuan metamorf adalah jenis batuan yang secara genetis terebntuk oleh perubahan secara fisik dari komposisi mineralnya serta perubahan tekstru dan strukturnya akibat pengaruh tekanan (P) dan temperature (T) yang cukup tinggi. Kondisi-kondisi yang harus terpenuhi dalam pembentukan batuan metamorf adalah:

Terjadi dalam suasana padat

Bersifat isokimia

Terbentuknya mineral baru yang merupakan mineral khas metamorfosa

Terbentuknya tekstur dan struktur baru.

Proses metamorfosa diakibatkan oleh dua factor utama yaitu Tekanan dan Temperatur (P dan T). Panas dari intrusi magma adalah sumber utama yang menyebabkan metamorfosa. Tekanan terjadi diakibatkan oleh beban perlapisan diatas (lithostatic pressure) atau tekanan diferensial sebagai hasil berbagai stress misalnya tektonik stress (differential stress). Fluida yang berasal dari batuan sedimen dan magma dapat mempercepat reaksi kima yang berlangsung pada saat proses metamorfosa yang dapat menyebabkan pembentukan mineral baru. Metamorfosis dapat terjadi di setiap kondisi tektonik, tetapi yang paling umum dijumpai pada daerah kovergensi lempeng.

Jenis-jenis metamorfosa adalah:

Metamorfosa kontak  dominan pengaruh suhu

Metamorfosa dinamik  dominan pengaruh tekanan

Metamorfosa Regional  kedua-duanya (P dan T) berpengaruh

Fasies metamorfosis dicirikan oleh mineral atau himpunan mineral yang mencirikan sebaran T dan P tertentu. Mineral-mineral itu disebut sebagai mineral index. Beberapa contoh mineral index antara lain:

Staurolite: intermediate  high-grade metamorphism

Actinolite: low  intermediate metamorphism

Kyanite: intermediate  high-grade

Silimanite: high grade metamorphism

Zeolite: low grade metamorphism

Epidote: contact metamorphism

Pada prinsipnya batuan metamorfosa diklasifikasikan berdasarkan struktur. Struktur foliasi terjadi akibat orientasi dari mineral, sedangkan non-foliasi yang tidak memperlihatkan orientasi mineral. Foliasi merujuk kepada kesejajaran dan segregasi mineral-mineral pada batuan metamorf yang inequigranular.

Batuan metamorf befoliasi membentuk urutan berdasarkan besar butir dan atau berdasarkan perkembangan foliasi. Urut-urutannya adalah: slate  phyllite  schist  gneiss. Selain menunjukkan besar butir dan derajat foliasi urut-urutan ini juga menunjukkan kandungan mika yang semakin banyak dari kiri ke kanan. Salah satu ciri khas batuan metamorf yang dapat teridentifikasi adalah kenampakkan kilap mika.

Sedangkan, untuk batuan metamorf non-foliasi contohnya adalah marmer, kuarsit dan hornfels.

Sementara itu, untuk tekstur mineral pada batuan metamorfosa dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Lepidoblastik : terdiri dari mineral-mineral tabular/pipih, misalnya mineral mika (muskovit, biotit)

Nematoblastik : terdiri dari mineral-mineral prismatik, misalnya mineral plagioklas, k-felspar, piroksen

Granoblastik : terdiri dari mineral-mineral granular (equidimensional), dengan batas-batas sutura (tidak teratur), dengan bentuk mineral anhedral, misalnya kuarsa.

Tekstur Homeoblastik : bila terdiri dari satu tekstur saja, misalnya lepidoblastik saja.

Tekstur Hetereoblastik : bila terdiri lebih dari satu tekstur, misalnya lepidoblastik dan granoblastik

BATUAN PIROKLASTIK

Berdasarkan kata pembentuknya:

Pyro  pijar

Klastik  fragmen

Dapat disimpulkan bahwa batuan piroklastik adalah suatu batuan yang terbentuk dari hasil langsung letusan gunung api (direct blast) yang kemudian terendapkan pada permukaan sesuai dengan keadaan permukaannya (endapan piroklastik) dan lalu mengalami litifikasi untuk menjadi batuan piroklastik.

Mekanisme pengendapan piroklast adalah sebagai berikut:

Pyroclastic Flow Deposits

Macam :

– block & ash flows

-scoria flows

-pumice / ash flows

Distribusi / penyebaran : di lembah / depresi; struktur : perlapisan (graded bedding, paralel laminasi); tekstur : sortasi buruk, terdiri dari kristal, litik, dan gelas (pumis); bagian bawah : pyroclastic surge deposits

Pyroclastic Fall Deposits

Pyroclastic Surge Deposits

Partikel, gas dan air vulkanik konsentrasi rendah yang mengalir dalam mekanisme turbulensi sebagai sebuah gravity flow (runtuhan). Macam-macamnya adalah base, ground dan ash cloud. Strukturnya cross-bedding dengan sortasi yang buruk.

Klasifikasi batuan piroklastik berdasrkan ukurannya (Schmid, 1981)

Ukuran Piroklas Endapan piroklastik
Tefra (tak terkonsolidasi) Batuanpiroklastik (terkonsolidasi)
> 64 mm Bom, blok Lapisan bom / blok 

Tefra bom atau blok

Aglomerat, breksi piroklastik
2 – 64 mm lapili Lapisan lapili atau 

Tefra lapili

Batulapili (lapillistone)
1/16 – 2 mm Abu/debu kasar Abu kasar Tuf kasar
< 1/16 mm Abu/debu halus Abu/debu halus tuf halus

Berdasarkan terbentuknya, fragmen piroklast dapat dibagi menjadi:

Juvenile pyroclasts : hasil langsung akibat letusan, membeku dipermukaan (fragmen gelas, kristal pirojenik)

Cognate pyroclasts : fragmen batuan hasil erupsi terdahulu (dari gunungapi yang sama)

Accidental pyroclasts : fragmen batuan berasal dari basement (komposisi berbeda)

Fragmen:

1. Gelas/ Amorf

2. Litik

3. Kristalin

MINERAL-MINERAL ALTERASI

Alterasi = Metasomatisme

Merupakan perubahan komposisi mineralogy batuan (dalam keadaan padat) karena pengaruh Suhu dan Tekanan yang tinggi dan tidak dalam kondisi isokimia menghasilkan mineral lempung, kuarsa, oksida atau sulfida logam.

Proses alterasi merupakan peristiwa sekunder, tidak selayaknya metamorfisme yang merupakan peristiwa primer. Alterasi terjadi pada intrusi batuan beku yang mengalami pemanasan dan pada struktur tertentu yang memungkinkan masuknya air meteoric untuk dapat mengubah komposisi mineralogy batuan.

Beberapa contoh mineral alterasi antara lain:

Kalkopirit

Pirit

Limonit

Garnierit

Epidote

Malakit

Khlorit

Orphiment

Realgar

Galena

BATUAN SEDIMEN

Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari pecahan atau hasil abrasi dari sedimen, batuan beku, metamorf yang tertransport dan terendapkan kemudian terlithifikasi.

Ada dua tipe sedimen yaitu: detritus dan kimiawi. Detritus terdiri dari partikel-2 padat hasil dari pelapukan mekanis. Sedimen kimiawi terdiri dari mineral sebagai hasil kristalisasi larutan dengan proses inorganik atau aktivitas organisme. Partikel sedimen diklasifikasikan menurut ukuran butir, gravel (termasuk bolder, cobble dan pebble), pasir, lanau, dan lempung. Transportasi dari sedimen menyebabkan pembundaran dengan cara abrasi dan pemilahan (sorting). Nilai kebundaran dan sorting sangat tergantung pada ukuran butir, jarak transportasi dan proses pengendapan. Proses litifikasi dari sedimen menjadi batuan sedimen terjadi melalui kompaksi dan sementasi.

Batuan sedimen dapat dibagi menjadi 3 golongan:

1. Batuan sedimen klastik  terbentuk dari fragmen batuan lain ataupun mineral

2. Batuan sedimen kimiawi  terbentuk karena penguapan, evaporasi

3. Batuan sedimen organic  terbentuk dari sisa-sisa kehidupan hewan/ tumbuhan

Klasifikasi batuan sedimen klastik adalah berdasarkan besar butirnya, oleh karenanya digunakan skala Wentworth. Sedangkan untuk klasifikasi batuan sedimen kimiawi dilakukan berdasarkan matriks maupun fragmennya dengan klasifikasi dari Dunham, Embry-Klovan.

6.   PROSES PELAPUKAN

Pelapukan adalah proses pegrusakan atau penghancuran kulit bumi oleh tenaga eksogen. Pelapukan di setiap daerah berbeda beda tergantung unsur unsur dari daerah tersebut. Misalnya di daerah tropis yang pengaruh suhu dan air sangat dominan, tebal pelapukan dapat mencapai seratus meter, sedangkan daerah sub tropis pelapukannya hanya beberapa meter saja.

Menurut proses terjadinya pelapukan dapat digolongkan menjadi 3 jenis yaitu:
- pelapukan fisik atau mekanik
- pelapukan organis
- pelapukan kimiawi

Penjelasan ketiga jenis tersebut adalah:
a.Pelapukan fisik dan mekanik.
Pada proses ini batuan akan mengalami perubahan fisik baik bentuk maupun ukuranya.
Batuan yang besar menjadi kecil dan yang kecil menjadi halus. Pelapukan ini di sebut juga pelapukan mekanik sebab prosesnya berlangsung secara mekanik.

Penyebab terjadinya pelapukan mekanik yaitu:
1.Adanya perbedaan temperatur yang tinggi.
Peristiwa ini terutama terjadi di daerah yang beriklim kontinental atau beriklim Gurun di daerah gurun temperatur pada siang hari dapat mencapai 50 Celcius. Pada siang hari bersuhu tinggi atau panas. Batuan menjadi mengembang, pada malam hari saat udara menjadi dingin, batuan mengerut. Apabila hal itu terjadi secara terus menerus dapat mengakibatkan batuan pecah atau retak-retak.
Perhatikan gambar !

2.Adapun pembekuan air di dalam batuan
Jika air membeku maka volumenya akan mengembang. Pengembangan ini menimbulkan tekanan, karena tekanan ini batu- batuan menjadi rusak atau pecah pecah. Pelapukan ini terjadi di daerah yang beriklim sedang dengan pembekuan hebat.

3.Berubahnya air garam menjadi kristal.
Jika air tanah mengandung garam, maka pada siang hari airnya menguapdan garam akan mengkristal. Kristal garam ini tajam sekali dan dapat merusak batuan pegunungan di sekitarnya, terutama batuan karang di daerah pantai.

Salah satu bentuk bumi yang mengalami proses pelapukan mekanik
b.Pelapukan organik
Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang tumbuhan dan manusia, binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah, serangga.
Dibatu-batu karang daerah pantai sering terdapat lubang-lubang yang dibuat oleh binatang.
Pengaruh yang disebabkan oleh tumbuh tumbuhan ini dapat bersifat mekanik atau kimiawi. Pengaruh sifat mekanik yaitu berkembangnya akar tumbuh-tumbuhan di dalam tanah yang dapat merusak tanah disekitarnya. Pengaruh zat kimiawi yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akar- akar serat makanan menghisap garam makanan. Zat asam ini merusak batuan sehingga garam-garaman mudah diserap oleh akar. Manusia juga berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan pohon, pembangunan maupun penambangan.

c.Pelapukan kimiawi
Pada pelapukan ini batu batuan mengalami perubahan kimiawi yang umumnya berupa pelarutan. Pelapukan kimiawi tampak jelas terjadi pada pegunungan kapur (Karst). Pelapukan ini berlangsung dengan batuan air dan suhu yang tinggi. Air yang banyak mengandung CO2 (Zat asam arang) dapat dengan mudah melarutkan batu kapur (CACO2). Peristiwa ini merupakan pelarutan dan dapat menimbulkan gejala karst.
Di Indonesia pelapukan yang banyak terjadi adalah pelapukan kimiawi. Hal ini karena di Indonesia banyak turun hujan. Air hujan inilah yang memudahkan terjadinya pelapukan kimiawi.

Gejala atau bentuk – bentuk alam yang terjadi di daerah karst diantaranya:
a.Dolina
Dolina adalah lubang lubang yang berbanuk corong. Dolina dapat terjadi karena erosi (pelarutan) atau karena runtuhan. Dolina terdapat hampir di semua bagian pegunungan kapur di Jawa bagian selatan, yaitu di pegunungan seribu.

b.Gua dan sungai di dalam Tanah
Di dalam tanah kapur mula-mula terdapat celah atau retakan. Retakan akan semakin besar dan membentuk gua-gua atau lubang-lubang, karena pengaruh larutan.Jika lubang-lubang itu berhubungan, akan terbentuklah sungai-sungai di dalam tanah.

c.Stalaktit adalah kerucut kerucut kapur yang bergantungan pada atap gua. Terbentuk tetesan air kapur dari atas gua. Stalakmit adalah kerucut-kerucut kapur yang berdiri pada dasar gua. Contohnnya stalaktit dan stalakmit di Gua tabuhan dan gua Gong di Pacitan, jawa Timur serta Gua jatijajar di Kebumen, Jawa Tengah.
Perhatikan gambar !
Stalaktit yang di atas stalaknit yang di bawah

7.   FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA EROSI

Begitu besarnya bahaya erosi yang pada akhirnya merugikan kehidupan manusia, oleh karena itu beberapa ahli membagi faktor-faktor yang menjadi penyebab erosi dan berupaya untuk menanggulanginya. Menurut (Rahim, 2000) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi erosi adalah

  1. Energi, yang meliputi hujan, air limpasan, angin, kemiringan dan panjang lereng,
  2. Ketahanan; erodibilitas tanah (ditentukan oleh sifat fisik dan kimia tanah), dan
  3. Proteksi, penutupan tanah baik oleh vegetasi atau lainnya serta ada atau tidaknya tindakan konservasi.

Morgan (1979) dalam Nasiah (2000) menyatakan bahwa kemampuan mengerosi, agen erosi, kepekaan erosi dari tanah, kemiringan lereng, dan keadaan alami dari tanaman penutup tanah merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap erosi tanah.
Erosi adalah akibat interaksi kerja antara faktor-faktor iklim, topografi, tumbuh-tumbuhan (vegetasi), dan manusia terhadap tanah (Arsyad, 1989) yang dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :

E = f ( i.r.v.t.m )

Dimana :
E=Erosi
I=Iklim
v=Vegetasi
m=Manusia
f=fungsi
r=Topografi
t=Tanah

a.Iklim
Iklim merupakan faktor terpenting dalam masalah erosi sehubungan dengan fungsinya. Sebagai agen pemecah dan transpor. Faktor iklim yang mempengaruhi erosi adalah hujan (Arsyad 1989). Banyaknya curah hujan, intensitas dan distribusi hujan menentukan dispersi hujan tehadap tanah, jumlah dan kecepatan permukaaan serta besarnya kerusakan erosi. Angin adalah faktor lain yang menentukan kecepatan jatuh butir hujan. Angin selain sebagai agen transport dalam erosi di beberapa kawasan juga bersama-sama dengan temperatur, kelambaban dan penyinaran matahari berpengaruh terhadap evapotranspirasi, sehingga mengurangi kandungan air dalam tanah yang berarti memperbesar kembali kapasitas infiltrasi tanah.

b.Topografi
Kemiringan dan panjang lereng adalah dua faktor yang menentukan karakteristik topografi suatu daerah aliran sungai. Kedua faktor tersebut penting untuk terjadinya erosi karena faktor-faktor tersebut menentukan besarnya kecepatan dan volume air larian (Asdak, 1995). Unsur lain yang berpengaruh adalah konfigurasi, keseragaman dan arah lereng (Arsyad, 1989).
Panjang lereng dihitung mulai dari titik pangkal aliran permukaan sampai suatu titik dimana air masuk ke dalam saluran atau sungai, atau dimana kemiringan lereng berkurang sedemikian rupa sehingga kecepatan aliran air berubah. Air yang mengalir di permukaan tanah akan terkumpul di ujung lereng. Dengan demikian berarti lebih banyak air yang mengalir dan semakin besar kecepatannya di bagian bawah lereng dari pada bagian atas.

c.Vegetasi
Vegetasi penutup tanah yang baik seperti rumput yang tebal, atau hutan yang lebat akan menghilangkan pengaruh hujan dan topografi terhadap erosi (Arsyad, 1989). Asdak (1995) mengemukakan bahwa yang lebih berperan dalam menurunkan besarnya erosi adalah tumbuhan bahwa karena ia merupakan stratum vegetasi terakhir yang akan menentukan besar kecilnya erosi percikan. Pengaruh vegetasi terhadap aliran permukaan dan erosi dibagi dalam lima bagian (Arsyad, 1989), yakni:

  1. Sebagai intersepsi hujan oleh tajuk tanaman.
  2. Mengurangi kecepatan aliran permukaan dan kekuatan perusak air.
  3. Pengaruh akar dan kegiatan-kegiatan biologi yang berhubungan dengan pertumbuhan vegetasi dan pengaruhnya terhadap stabilitas struktur dan porositas tanah.
  4. Transpiransi yang mengakibatkan kandungan air tanah berkurang sehingga meningkatkan kapasitas infiltrasi.

d.Tanah
Arsyad (1989), menerangkan bahwa berbagai tipe tanah mempunyai kepekaan terhadap erosi yang berbeda-beda. Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi kepekaan erosi adalah (1) sifat-sifat tanah yang mempengaruhi laju infiltrasi, permeabilitas menahan air, dan (2) sifat-sifat tanah yang mempengaruhi ketahanan struktur tanah terhadap dispersi dan pengikisan oleh butir-butir hujan yang jatuh dan aliran permukaan. Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi erosi adalah tekstur, struktur, bahan organik, kedalaman, sifat lapisan tanah, dan tingkat kesuburan tanah.

e.Manusia
Manusia dapat mencegah dan mempercepat terjadinya erosi, tergantung bagaimana manusia mengelolahnya. Manusialah yang menentukan apakah tanah yang dihasilkannya akan merusak dan tidak produktif atau menjadi baik dan produktif secara lestari. Banyak faktor yang menentukan apakah manusia akan mempertahankan dan merawat serta mengusahakan tanahnya secara bijaksana sehingga menjadi lebih baik dan dapat memberikan pendapatan yang cukup untuk jangka waktu yang tidak terbatas (Arsyad, 1989).

8.   HASIL BENTUKAN DARI PROSES SEDIMENTASI

Sedimentasi adalah proses pengendapan materi-materi hasil erosi yang dibawa oleh tenaga pengangkut seperti air, angin, gelombang laut, dan gletser. Materi-materi hasil erosi tersebut pada jarak tertentu akan mengalami penurunan kecepatan gerak atau berhenti sama sekali. Materi yang lebih besar tentu akan diendapkan terlebih dahulu dibanding dengan materi yang lebih halus. Bentukan-bentukan hasil pengendapan ini di antaranya adalah:

  1. delta, yaitu suatu bentuklahan yang dibentuk dari endapan sedimen pada mulut suatu sungai, baik di laut maupun di danau.
  2. gisik (Beach), yaitu pantai (shore) yang berlereng landai yang terbentuk oleh material lepas-lepas (tak terkonsolidasi) dan terletak antara titik air surut dan letak air pasang tertinggi yang dicapai oleh gelombang badai.
  3. sand dunes/gumuk pasir, yaitu gundukan pasir yang terbentuk karena pengendapan oleh angin. Gumuk pasir ini banyak dijumpai di wilayah gurun.
  4. bar, yaitu gosong pasir di pantai yang arahnya memanjang.
  5. tombolo, yaitu gosong pasir yang menghubungkan pulau karang dengan pulau utama.

Gambar Berbagai macam bentukan hasil pengendapan.

(1) Delta (2) Beach(3) Sand dunes(4) Tombolo

9. DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF DARI TENAGA ENDOGEN DAN EKSOGEN

Tenaga endogen dan eksogen memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif dari tenaga endogen adalah

  1. Lapisan magma yang menembus kerak benua dan membeku di bawah permukaan tanah   berpotensi mengandung mineral yang berharga seperti emas, perak, dan bahan tambang lainnya.
  2. material letusan gunungapi (eflata) sangat kaya akan mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Setelah mengalami proses pelapukan, material-material hasil letusan tersebut akan hancur dan menjadi tanah vulkanik yang subur, sehingga tidak heran jika banyak lahan pertanian yang subur berada di daerah ini.
  3. Magma yang panas di bawah permukaan bumi juga akan memanaskan airtanah sehingga terbentuk uap yang berguna untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi. Magma juga memanaskan airtanah dan menjadi sumber air panas bagi keperluan wisata pemandian airpanas.
  4. Endapan pasir dan batu juga terbentuk di sekitar gunungapi yang sangat berguna untuk bahan bangunan.
  5. Terbentuknya gunung atau pegunungan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia pariwi­sata karena udaranya yang sejuk dan pemandan­gannya yang indah.

Tanah vulkanik yang subur di sekitar Gunungapi

Gambar  : Pembangkit Listri Tenaga Uap (PLTU) dan Daya tarik wisata pegunungan

Disamping sejumlah dampak positif yang ditumbulkannya, tenaga endogen memiliki dampak

negatif, yaitu di antaranya:

  1. lava dan lahar yang dikeluarkan oleh aktivitas gunungapi dapat merusak lahan pertanian, per­mukiman dan dapat menimbulkan korban jiwa.
  2. Abu vulkanis yang dikeluarkan pada saat letusan dapat merusak tanaman, iritasi pada mata, tergang­gunya saluran pernapasan, menggangu aktivitas penduduk, terganggunya tansportasi, dan lain-lain.
  3. Bom, lapili, pasir yang terhempas saat letusan dapat merusak permukiman, dan pertanian.

Gambar  : Kerusakan rumah akibat abu gunungapi.

Agak berbeda dengan tenaga endogen, tenaga eksogen umumnya bersifat menghancurkan. Permukaan bumi yang telah dibentuk oleh tenaga endogen, kemudian lambat laun dihancurkan oleh tenaga eksogen. Walaupun memiliki sifat menghancurkan, tetapi tenaga eksogen memiliki dampak positif bagi kehidupan, di antaranya:

  1. Batuan dari hasil pembekuan magma akan bermanfaat bagi tumbuhan jika telah dihancurkan oleh tenaga eksogen menjadi partikel-partikel tanah.
  2. Batuan beku terpecah-pecah menjadi batuan yang berukuran lebih kecil sehingga dapat dimanfaat­kan untuk berbagai keperluan terutama bahan bangunan.
  3. Mineral-mineral berharga yang tadinya berada di bawah permukaan tanah lambat laun tersingkap oleh tenaga eksogen sehingga memberi manfaat bagi manusia.

Adapun dampak negatif tenaga eksogen bagi kehidupan di antaranya adalah:

  1. erosi mengakibatkan lapisan tanah yang subur berkurang atau hilang dan akibatnya tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik.
  2. erosi juga mengakibatkan sedimentasi di daerah yang lebih rendah dan terjadi pendangkalan di daerah danau atau waduk. Akibatnya kemampuan PLTA untuk menghasilkan listrik semakin berkurang.

3.selain mengakibatkan pendangkalan, erosi juga menjadikan air sungai dan danau tidak lagi jernih. Akibatnya tidak lagi bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk keperluan minum atau mencuci. Makhluk hidup, khususnya ikan juga akan semakin berkurang jumlahnya.

  1. C. METODE PEMBELAJARAN :

1.   Ceramah bervariasi

2.   Diskusi

3.   Inquiry

4.   Tanya jawab

5.   Simulasi

6.   Observasi / pengamatan

  1. D. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN :

Pertemuan I :

a.    Pendahuluan

-     Apersepsi               :      Sebutkan nama gunung api yang pernah kalian lihat dan dengan

-     Motivasi                 :  -   Mengapa di dunia ini sering terjadi gempa bumi

-   Apa akibatnya jika terjadi gempa bumi

b.    Kegiatan Inti  :

  • Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

F     Menjelaskan proses alam endogen yang menyebabkan terjadinya bentuk muka bumi dengan Tekun ( diligence )

F     melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;

F     menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;

F     memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;

F     melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan

F     memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

  • Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

F     membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;

F     memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;

F     Salah satu siswa disuruh menjelaskan proses alam endogen yang menyebabkan terjadinya berbagai bentukan di permukaan bumi

F     Siswa dibagi menjadi 2 kelompok

*    Kelompok I       :      diberi tugas memberikan contoh faktor penyebab terjadinya bentukan  muka bumi yang berasal dari luar / eksogen

*    Kelompok II     :      Memberikann contoh penyebab terjadinya bentukan muka bumi yang  berasal dari dalam / endogen

F     Setiap kelompok membuat hasil laporan dari diskusi kelompok Secara telitian ( carefulness)

F     apa kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan dan kelompok lain memberikan tanggapan

F     ya jawab tentang perbedaan faktor endogen dan eksogen

F     memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;

F     memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;

F     memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;

F     memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;

F     memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;

F     memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;

F     memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

  • Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

F     Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa

F     Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

c. Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru:

F     bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;

F     melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;

F     memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;

F     merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;

Pertemuan 2     :

a.    Pendahuluan :

-     Apersepsi         :      Contoh faaktor endogen dan eksogen

-     Motivasi           :      Memenceritakan tentang aktivitas gunung berapi akhir-akhir ini

b.    Kegiatan Inti     :

-     Menjelaskan pengertiian diastropisme dan vulkanisme dengan Tekun ( diligence )

-     Menjelaskan tipe-tipe gunung berapi dengan Tekun ( diligence )

c.    Penutup      :

-     Penilaian

-     Refleksi :

*    Siswa dapat mengungkapkan bentuk gunung menurut erupsinyai

Pertemuan 3     :

a.    Pendahuluan :

-     Apersepsi   :     Memberikan contoh gunung tipe kerucut di Indonesia

-     Motivasi      :     Menjelaskan faktor penyebab terjadinya gempa bumi

b. Kegiatan Inti :

  • Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

F     Mendeskripsikan faktor terjadinya gempa bumi Secara telitian ( carefulness)

F     Menyebutkan akhibat gempa bumi Secara telitian ( carefulness)

F     Menjelaskan jenis batuan berdasarkan proses pembentukannya

F     melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;

F     menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;

F     memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;

F     melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan

F     memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

  • Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

F     membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;

F     memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;

F     memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;

F     memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;

F     memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;

F     memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;

F     memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;

F     memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;

F     memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

  • Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

F     Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa

F     Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

c. Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru:

F     bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;

F     melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;

F     memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;

F     merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;

Pertemuan 4     :

a.    Pendahuluan   :

-     Apersepsi         :     Guru memberikan gambar tentang proses pelapukan kepada siswa

-     Motivasi           :     Menanyakan tentang materal yang dibawa air ketika terjadi banjir

b.    Kegiatan Inti  :

  • Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

F     Menyebutkan faktor-faktor penyebab terjadinya gempa bumi dan akibat yang ditimbulkan Secara telitian ( carefulness)

F     Menyebutkan jenis batuan berdasarkan proses pembentukannya Secara telitian ( carefulness)

F     melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;

F     menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;

F     memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;

F     melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan

F     memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

  • Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

F     Kelas dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 – 6 siswa

F     Setiap kelompok diberi tugas untuk mengamati bentuk-bentuk pelapukan yang ada dilingkungan sekolah

F     Setiap kelompok mencatat proses pelapukan yang ada lingkungan sekolah untuk didiskusikan

F     Setelah melakukan diskusi, hasil kerja kelompok di presentasikan

F     Setiap kelompok melakukan presentasi, kelompok yang lain memberikan tanggapan

F     Setelah mendapatkan tanggapan, selanjutnya melakukaan penyempurnaan hasil kerja     kelompok

  • Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

F     Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa

F     Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

c. Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru:

F     bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;

F     melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;

F     memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;

F     merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;

Pertemuan 5     :

a.    Pendahuluan   :

-     Apersepsi         :     Guru menanyakan apakah disekitar tempat tinggal siswa ada sungai yang mengalir

-     Motivasi           :     Guru menunjukkan gambar muara sungai yang mengendapkan lumpur untuk diamati oleh siswa

b.    Kegiatan Inti  :

  • Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

F     Menyebutkan faktor penyebab erosi dan dampak erosi Secara telitian ( carefulness)

F     melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;

F     menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;

F     memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;

F     melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan

F     memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

  • Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

F     Kelas dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 – 6 siswa

F     Setiap kelompok diberi tugas untuk mengamati bentuk-bentuk erosi yang disebabkan oleh air dan angin

F     Kelompok I dan III mendiskusikan faktor penyebab terjadinya erosi

F     Kelompok II dan IV mendiskusikan pengaruh erosi terhadap perubahan bentuk muka  bumi

F     Setelah melakukan diskusi, hasil kerja kelompok di presentasikan

F     Setiap kelompok melakukan presentasi, kelompok yang lain memberikan tanggapan

F     Setelah mendapatkan tanggapan, selanjutnya melakukaan penyempurnaan hasil kerja Kelompok

  • Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

F     Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diktahui siswa

F     Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan

c. Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru:

F     bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;

F     melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;

F     memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;

F     merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;

Pertemuan 6

a.    Pendahuluan   :

-     Apersepsi      :     Siswa diminta menyebutkan akibat dari erosi terhadap muka bumi

-     Motivasi         :     Guru menampilkan gambar gunung meletus dan gempa bumi

b.    Kegiatan Inti     :

  • Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

F     Menjelaskan dampak positif dan negatif dari tenaga endogen dan eksogen dengan Tekun ( diligence )

F     melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;

F     menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;

F     memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;

F     melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan

F     memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

  • Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

F     membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;

F     memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;

F     Kelas dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 – 6 siswa

F     Setiap kelompok menerima tugas dari guru tentang dampak bentukan muka bumi karena tenaga endogen dan eksogen

F     Setiap kelompok mendiskusikan tugas yang diberikan oleh guru

F     Setelah melakukan diskusi, hasil kerja kelompok di presentasikan

F     Setiap kelompok melakukan presentasi, kelompok yang lain memberikan tanggapan

F     Setelah mendapatkan tanggapan, selanjutnya melakukaan penyempurnaan hasil kerja Kelompok

F     memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;

F     memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;

F     memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;

F     memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;

F     memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;

F     memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;

F     memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

  • Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

F     memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,

F     memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber,

F     memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan,

F     memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:

  • berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar;
  • membantu menyelesaikan masalah;
  • memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi;
  • memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;
  • memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

c. Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru:

F     bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan  pelajaran;

F     melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;

F     memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;

F     merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;

  1. E. SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN :

1.    Peta

2.    Atlas

3.    Globe

4.    Kertas karton /HVS

5.    Kertas penilaian Psikomotorik

6.    Maket bentukan muka bumi

7.    Buku Geografi yang relevan

  1. F. PENILAIAN :
Indikator Pencapaian Kompetensi Penilaian
Teknik Bentuk 

Instrumen

Contoh 

Instrumen

  • ·Mengidentifikasi bentuk-bentuk muka bumi daratan dan dasar laut
  • ·Mendeskripsikan proses alam endogen yang menyebabkan   terjadinya     bentuk muka bumi.
  • ·Mendeskripsikan gejala diastropisme dan vulkanisme serta sebaran tipe gunung api.
  • ·Mendeskripsikan faktor-faktor penyebab terjadinya gempa bumi dan akibat yang ditimbulkannya.
  • Mendeskripsikan  proses pelapukan
  • ·Mendeskripsikan  proses erosi, dan faktor-faktor penyebabnya, dampaknya.
  • ·Memberikan contoh bentukan yang dihasilkan oleh proses sedimentasi.
  • ·Mengidentifikasi dampak positif dan negatif dari tenaga endogen dan eksogen bagi kehidupan serta upaya penanggulangannya.

 

Tes lisan 

Tes lisan

Tes tulis

Penugasan

Tes tulis

Tes tulis

Tertulis

 

Daftar pertanyaan. 

Daftar pertanyaan

Pilihan Ganda

Tugas rumah

Tes Uraian

Pilihan ganda

Tes Uraian

 

Sebutkan jenis-jenis bentuk muka bumi daratan! 

Apakah yang dimaksud tenaga geologi dan berikan contohnya!

Tipe gunung api yang banyak terdapat di Indonesia yaitu ….

  1. maar
  2. perisai
  3. starto
  4. kaldera

Buatlah peta jalur gempa bumi di Indonesia pada kertas karton ukuran A2!

Jelaskan proses pelapukan biologis!

Erosi yang disebabkan gelombang air laut yang mengikis pantai disebut ….

  1. abrasi
  2. deflasi
  3. glasial
  4. korasi

Sedimen yang diendapkan disepanjang pantai sampai kedalaman 200 meter disebut batuan……

a. Breksi

b. Konglomerat

c. Pasir

d. lempung

Gempa bumi yang disebabkan dislokasi atau pergeseran lapisan batuan yang panjang didalam

bumi disebut….

a. Gempa bumi vulkanik

b. Gempa bumi tektonik

c. Gempa bumi     vulkanotektonik

d. Gempa bumi runtuhan

faktor yang paling berpengaruh dalam pelapukan organik adalah….

a. air

b. makluk hidup

c. penyinaran matahari

d. angin

Tanah endapan vulkanis sangat subur, karena…..

a. Butirannya halus

b. Mengandung P dan K

c. Mengandung N

d. Mengandung humus

Dampak negatif tenaga endogen adalah adanya getaran orogenik yang menimbulkan…..

a. Patahan

b. Lipatan

c. Gunung api

d. Gempa

Berilah 2 contoh bentang alam hasil sedimentasi oleh air!

Jelaskan struktur lapisan bumi!

Sebutkan jenis-jenis struktur patahan dan lipatan!

Sebutkan tiga golongan batuan beserta contohnya!

Bagaimana menanggulangi dampak negatif tenaga eksogen dan endogen?

Jelaskan 3 manfaat material vulkanik gunung api !

 

Mengetahui, 

Kepala Sekolah ………………

( …………………………………. )

NIP/NIK : ………………………………..

……………, ………………  20 …. 

Guru Mapel  IPS,

( …………………………………. )

NIP/NIK : ………………………………..

About these ads

2 responses

  1. terimakasih atas pembelajaran.nya..
    dan bahan bahan.nya..

  2. yang lengkap donk. nanggung nih. trims

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: